Saya seperti pertapa turun gunung. Saya sudah lama tidak mengajar, dan tiba-tiba harus masuk kelas ketika guru Bahasa Inggris hamil dan perlu beristirahat.

Ya, mungkin sudah saatnya saya masuk kelas lagi ….

Kelas yang saya tangani adalah Bahasa Inggris, dan ini menjadi sebuah tantangan. Sekolah saya mengklaim diri sebagai sekolah berbahasa Indonesia, sehingga Bahasa Inggris menjadi bahasa kedua. Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka tidak berpikir dalam bahasa Indonesia dan kemudian menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris saat berbicara atau menyimak bahasa Inggris?

Kalau kita mengajar bahasa kedua, maka pengalaman kita sebagai siswa juga menjadi pertimbangan. Ketika kita mengajar bahasa kedua, kita tidak hanya berkaitan dengan ‘how to teach‘ tapi juga “how to learn“. Bahasa adalah keterampilan yang kompleks, yang pada anak berkembang dengan spontan, tanpa usaha sadar, dan tanpa pengajaran formal. Ketika kita belajar bahasa kedua, kondisinya berbeda dengan ketika kita belajar bahasa pertama. Kita belajar karena ada tujuan, kita berhadapan dengan sistem yang berbeda dengan bahasa kita, kita mungkin takut berbuat kesalahan karena malu pada teman dan takut pada guru.

Jujur saja ketika saya belajar bahasa Inggris di tempat kuliah, saya merasa tertekan. Saya merasa dosen Speaking memiliki tatapan mata dingin, tarikan bibir ke bawah, dan dengan segera mengoreksi kalau kita berbuat kesalahan. Saya pun tambah takuuuut berbicara. Entah metode apa yang dipakainya …. Hi hi ….

Jadi rule no. 1 adalah menghilangkan rasa takut, tapi juga tidak membuat anak “menerjemahkan” kata-kata Indonesia menjadi bahasa Inggris. Target saya adalah membuat mereka terbiasa mendengar bunyi-bunyi dalam bahasa Inggris, sebelum mereka melangkah ke membaca dan menulis. Karena itu saya sebisa mungkin berbicara dalam bahasa Inggris, menjelaskan dengan alat peraga gambar, gerak tubuh, dan nyanyian. Berbeda dengan dosen Speaking saya, saya berusaha membuat setiap orang terlibat.  Mulai dari Hello Song yang menyebut nama mereka, meminta mereka mengulangi kata atau memeragakan suatu tindakan, main drama, menyanyi berdua-bertiga-bersama-sama, dan lain-lain.

Penuh dinamika. Ada kelas yang tadinya penuh dalih kalau saya ajak menyanyi atau mengikuti perintah. Salah seorang beralasan, “Mau snack time“, dan berjalan keluar mengambil makanan. Teman-temannya ikut membungkam dan menggeleng ketika diminta menyanyi. Saya putar otak … dan saya minta membuat gambar dari kata-kata yang sudah diajarkan. Sambil mengamati gambar satu demi satu, setiap anak saya ajak bercerita tentang gambarnya.

Minggu berikutnya kelas ini saya gabung dengan kelas paralelnya yang aktif dan penuh semangat bila belajar bahasa Inggris. Sekalipun di awal mereka tertular semangat anak-anak kelas yang lain, tapi ketika diminta bergiliran menirukan atau menyanyi, anak-anak yang biasanya menggeleng ini kembali  menggelengkan kepala. Hmm …. Datanglah akal: “Now boys. So if you are boys, stand up.” Gotcha! Anak yang selalu “snack time”, akhirnya berdiri, dan menyanyi. Teman-teman perempuannya pun berdiri juga, sewaktu saya katakan, “Now, it’s girls’ turn.” Kemudian saya bagi menjadi kelompok asal kelas mereka. Beres ….

Di kelas lain, semula setiap kelompok dibuat bergiliran. Apa yang terjadi? Kelompok yang belakangan berjalan mondar-mandir, sehingga cukup menjadi distraksi bagi kelompok yang sedang belajar. Ketika kelompok yang belakangan ini mendapat giliran, mereka terlihat sangat bersemangat. Oh, rupanya ada rasa cemburu pada kelompok yang belajar duluan. Akhirnya, kedua kelompok digabung pada minggu berikutnya. Mereka saling menularkan semangat, dan berebut tunjuk tangan ketika datang giliran untuk demo. Ya … anak yang aktif kadang didahulukan, dan kadang saya minta belakangan, karena saya ingin memberi kesempatan pada anak yang tidak aktif untuk berperan juga.

Di suatu kelas SD ada seorang anak yang dulu selalu tidur-tiduran atau melakukan verbal abuse terhadap temannya bila ada pelajaran bahasa Inggris. Anak ini mempunyai gangguan dispraksia (gangguan pada perencanaan motorik), yang menyebabkan dia sulit melakukan pengurutan, atau kegiatan yang  memerlukan pengurutan. Misalnya, menari, menyanyi, matematika, ataupun untuk hal simpel, mengingat posisi duduk awal. Tak heran bila pada kegiatan bahasa Inggris dia akan menarik diri, dengan cara tidur-tiduran atau mengeluarkan kata-kata untuk menyerang teman, ataupun membanggakan materi yang dimilikinya. Setelah dilakukan terapi, kemampuan perencanaannya membaik, dan dia mulai mau duduk di lingkaran pada kegiatan bahasa Inggris. Tetapi dia masih belum mau berpartisipasi.

Dalam suatu sesi ketika kelasnya saya ajarkan lagu Heal the World, Michael Jackson, dia mendadak jatuh cinta pada bahasa Inggris. Sewaktu diminta terapi yang waktunya bersamaan dengan bahasa Inggris, dia cemberut. “Mau bahasa Inggris,” katanya. Ha? Kami terkejut, dan gembira, karena dia sudah menjadikan kelas bahasa Inggris sebagai hal yang menyenangkan. Minggu berikutnya, dia mau aktif ketika kami membuat Word Wall, walaupun masih berpikir dalam fonetik bahasa Indonesia, ketika saya bertanya, “Do you know what jump is?” Matanya melirik ke jam di dinding …. Tidak apa-apa, setidaknya dia paham bahwa saya bertanya tentang /djam/, dan terlibat. Berkat Michael Jackson:)

Michael Jackson juga menjadi kunci untuk membuat seorang anak di kelas lain menerima saya sebagai “English teacher“. Setelah diajak mendengarkan lagu Heal the World, dia menghampiri saya di akhir kelas, “Kak Endah, aku suka lagunya.” Ha ha … padahal pada pertemuan sebelumnya dia selalu menasihati saya, bila saya berbahasa Inggris. Pada pertemuan pertama, dia hanya duduk di kursi menatap saya sambil makan bekal.  Lima menit kemudian, dia berdiri, dan membisiki saya, “Berbahasa Indonesia.”

Usai kelas, pada waktu antre makan, seorang anak perempuan bercerita bahwa dia menaruh gambar di meja saya. Saya pun berkata, “Thank you, girl. It’s so sweet.” Tiba-tiba ada yang mengingatkan saya, “Ini saat antre makan. Berbahasa Indonesia.”

Minggu-minggu berikutnya masih seperti itu, sampai kejadian Michael Jackson itu. Semua kejadian di kelas saya sampaikan kepada ibunya, dan saya mengatakan bahwa dulu saya termasuk yang mendukung agar dia tidak diberi stimulus bahasa Inggris, sebelum penguasaan bahasa ibunya berkembang sempurna. Ternyata dikotomi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris melekat kuat, sehingga ketika kemampuan bahasa ibu sudah berkembang, dia tetap menolak bahasa Inggris. Apalagi label saya bukanlah guru bahasa Inggris!

Seminggu setelah menyanyi lagu Michael Jackson, dia mau bergabung di lingkaran, dan mau mengucapkan dengan fonetik sempurna frase The Leaking Tap. Saya katakan sempurna, karena dia dapat mengucapkan /t/ dengan letupan, dan /ae/. Beberapa anak saya minta mengulang ketika mengucapkan /t/ seperti /t/ dalam bahasa Indonesia, dan /ae/ yang mengarah ke /e/.

Saat saya mendongeng The Leaking Tap, dia pun duduk di belakang saya. Dia membuka-buka jilbab belakang saya, dan mengambil kartu-kartu yang telah saya baca. Saya pun memberi kode kepada asisten untuk memindahkan dia ke meja. Dia mau pindah ke meja, tapi saya lihat tarikan bibirnya yang menandakan dia tidak suka. Dan kemarahannya pun dilampiaskan kepada teman yang kebetulan menyenggolnya.

Hmm … saat melihat bekas gigitan di lengan temannya, saya seperti melihat jejak teori how to learn L2. Artinya, saya mesti memahami dinamika mempelajari bahasa kedua lebih dalam lagi. Mungkin ketika kuliah, saya hanya tidak nyaman terhadap guru Speaking saya. Saya kesampingkan rasa sebel dan malu, karena saya sadar bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa kedua didasarkan pada penguasaan bentuk-bentuk bahasa. Yah, saya kan berangan-angan jadi linguis waktu itu. Nah, pada anak-anak, ketidaknyamanan terhadap pembelajaran bahasa kedua mereka ekspresikan dengan berbagai cara. Dengan “snack time“, tidur-tiduran, mengganggu teman, mondar-mandir, melarang saya berbahasa Inggris, membuka jilbab belakang dan menggigit teman. Ketidaknyamanan bukan berarti penolakan, tetapi juga keinginan besar untuk menjadi a successful L2 learner.

Seandainya pembelajaran bahasa Inggris diibaratkan menjadi sebuah dunia yang penuh dinamika, maka bagian awal dari lagu Heal the World ini akan tepat.

There’s a place in your heart
and I know that it is love

And this class could be much better than before
And If  you really try
You’ll  find there’s no place to cry
In this class you’ll feel
there’s no hurt or sorrow

….